Translate

Rabu, 24 Februari 2016

Sebab Kita

ingin kuukir lagi namaku di tanahmu
dengan ranting pepohonan layu
di bawah langit yang tak lagi biru

kekasihku
kini malamku tak berhias mimpi
sejak perpisahan benar benar terjadi
sejak tanahmu menjadi batu
sejak wajahku lenyap dari ingatanmu

amarah kita barangkali tumpah
sebab cinta sudah berubah
sebab garis menunjukkan yang lain
sebab takdir berkata lain

2015

Kamis, 23 Oktober 2014

Mesin Waktu (Time Machine)


It’s been an honour for me to take pictures of my friend’s poems book. Meitha KH wrote a poems book entitled “Mesin Waktu” (Time Machine). “Mesin Waktu (Time Machine)” is an anthology of 49 poems written between 2002 – 2012. Meitha KH is well-knowned as a presenter at MQTV and a writer for several articles and publications. We can read more about her on her blog at : http://meithakh.blogspot.com
Soni Farid Maulana, who wrote the “Mesin Waktu” introduction, told that Meitha’s poems were talking about love in socio-religious and even more, in mystical-religious point-of-view. Soni said that Meitha’s poems were very personal, simple, but full of meanings and nuances. Well, I couldn’t make any judgement or review about the content of “Mesin Waktu” because I don’t have a literature background and I’m not a valid and reliable person to make any assessment about poetry.
What I could do was just trying to produce a still-life photography about this book. This poems anthology related with ‘time’ so I configured its visual with “time-related” accessories. I used a clock and a calendar (which then I made some cuts of the calendar) and I set them on a multi/still-life table. I used a variety set of lighting by using 2 softboxes and a halogen lamp. (Zakaria Lantang)

Sajak Untuk Laut




kamu tahu cintaku, 

pasir pantai kembali memutih di hatiku
gemuruh ombak begitu riuh di dadaku
aku yang sunyi

memandang laut dan langit kemerahan
lalu wajahmu muncul di permukaan
timbul tenggelam
begitu biru dan haru
saat kau melambaikan tangan

2014

Bedah Buku Daya bersama Bank BTPN





Bedah buku Daya - Kisah inspiratif untuk Dayakan Indonesia, bersama Her Suganda, Iwan Setiawan,David Freddynanto, Riyeke Ustadiyanto di Universitas Indonesia.
Buku ini berisi tentang kisah-kisah inspiratif untuk semua kalangan, ditulis oleh bapak Her Suganda, dan didukung oleh Bank BTPN.

Lomba Menggambar dan Mewarnai




Dalam rangka hari ozon internasional beberapa teman menggelar acara lomba menggambar dan mewarnai. Menjadi juri dalam acara tersebut merupakan pengalaman yang menyenangkan buat saya. Dapat menikmati kreatifitas anak-anak bangsa yang luar biasa. Antusias dan dukungan orangtua para peserta pun sangat terasa, Acara ini digelar pada tanggal 21 September 2014 bertempat di ruang terbuka Taman Cilaki Bandung.

Peluncuran Sinologi dalam Fiksi karya Remy Sylado (Moderator, Meitha KH)

Peluncuran Sinologi dalam Fiksi

Kabar Nuansa: Senja di Sabtu, 12 Juli 2014 itu, Bandung diguyur hujan. Kemacetan pun melanda seantero kota kembang. Di Gedung Indonesia Menggugat, Jalan Perintis Kemerdekaan No.5 Bandung, tempat bersejarah di mana Ir. Soekarno diadili oleh Belanda, suasana nampak sepi. Tetapi kurang setengah jam sebelum buka puasa, seiring dengan redanya hujan, suasana mulai ramai. Beberapa sepeda motor dan mobil parkir di halaman yang terdapat sebuah pohon beringin besar itu. Mereka, terdiri dari laki-laki dan perempuan dari beragam usia berkumpul bersama. Ramai di depan aula, tempat stand buku dan registrasi.
2014-07-12 17.29.17
Faiz Manshur
Senja itu, Penerbit Nuansa Cendekia menggelar gawe acara bertama “Peluncuran Novel Perempuan Bernama Arjuna 2 (Sinologi dalam Fiksi)” buah karya satrawan kenamaan Indonesia, Remy Sylado. Di aula, lebih seratus kursi berderet penuh sesak oleh pengunjung. Sebagian berdiri, sebagian mencari tempat duduk di beranda gedung sebelah kanan. Jelang buka puasa, Yopi Setia Umbara membuka acara. Sesi pertama sambutan dari Pemimpin Redaksi Penerbit Nuansa Cendekia, Faiz Manshur.
Setelah itu dilanjutkan dengan pentas musik dari Riksa Al Hasil (vokalis Bandung Inikami Orcheska) bersama Herdy Yama (Closehead), dan kurang lima menit adzan magrib berkumandang dilakukan acara potong tumpeng memperingati ulang tahun ke 69 Remy Sylado (Lahir di Makasar, 12 Juli 1945). Eya Grimonia, musisi muda dari Bandung didaulat untuk membawakan tumpeng bagi Sang Maestro. Ucapan selamat, doa, dan tepuk tangan bahagia mengiringi potong tumpeng.
Setelah acara buka puasa bersama dan shalat magrib, acara berlanjut. Dua pembacaan puisi oleh aktor Bandung, Yussak  Anugrah dan Heliana Sinaga. Selanjutnya Meitha KH mendampingi Remy Sylado berbicara panjang lebar tentang novel barunya, Sejarah Cina, akulturasi, hingga urusan proses kreatif menulis.
panjang
Suasana Peluncuran Novel Perempuan Bernama Arjuna 2
“Sebelum saya menulis Filsafat dalam Fiksi memang sudah membaca karya Jostein Gaardner, tetapi saya tak terpengaruh oleh karya itu. Saya menulis karya itu karena ini menjawab satu hal, yakni menjelaskan peta filsafat barat dari Yunani Kuno sampai yang modern yang terangkum dalam sebuah karya. Dan selanjutnya saya menulis Sinologi dalam Fiksi yang menjelaskan tentang pengaruh kebudayaan Cina di Indonesia. Itu sangat penting karena memang pengaruh Cina sudah lama di sini, sekaligus memiliki banyak bukti bahwa bangsa Cina berkontribusi dalam peranan kebudayaan Nasional,” papar Remy menjawab pertanyaan salah seorang peserta.
2014-07-12 19.03.21
Meitha KH dan Remy Sylado
2014-07-12 19.03.21Selain berbicara penulisan, Remy juga mengatakan bahwa dalam berkarya ia senantiasa peduli terhadap realitas bangsa yang paling mendasar. Misalnya dalam kebudayaan, Remy merasa harus mengkritik kenyataan pahit dari keterbelakangan bangsa ini. “Kebangsaan kita tercabik-cabik karena kita telah membalik logika dari yang segarusnya Bhineka Tunggal Ika menjadi Ika Bertunggal Bhineka. Ini menjadikan konflik karena melawan fitrah. Dulu hikayat Adam-Hawa menurunkan dua insan, Habil dan Kabil memberikan pelajaran dua hal yang berbeda terlibat konflik karena satu di antara memaksa dua pikiran dan perasaan menjadi tunggal. Dan kita juga punya kecenderungan untuk memaksakan kehendak itu. Ini merupakan bencana kebangsaan. Itulah salahsatu pesan yang ingin saya sampaikan dalam dua novel tersebut,” tuturnya.
Tak ketinggalan, dalam urusan proses kreatif Remy juga mengkritik kebiasaan para sastrawan di Indonesia yang miskin karya. “Sastrawan di Indonesia yang tua-tua itu kebanyakan hanya besar nama tapi kecil karya. Seharusnya menjadi penyair itu mampu menghasilkan karya yang bernilai, dalam pengertian mampu menghasilkan karya sastra yang memberi pengharapan sekaligus penghiburan, bukan karya yang justru membuat kusut pikiran,” terangnya diiringi tawa meriah peserta.
Dengan dua novel itu, Remy punya maksud agar orang berkenan belajar filsafat secara runut dan jelas. Selain filsafat ia pun merasa perlu menulis tentang sejarah Cina supaya masyarakat memahami akar sejarah kebudayaan. Ia berencana melanjutkan penulisan novel tersebut dalam tema Javanologi, tentang sendi-sendi kebudayaan Jawa melalui novel.[]

Malam Puisi Dua Bahasa (Indonesia - Perancis)







Penampilan penyair Meitha Kh dalam acara Malam Puisi Dua Bahasa pada Minggu (14/09/2014) lalu di Auditorium Bandung. Acara digelar oleh Rumah Baca Ilalang bekerjasama dengan IFI Bandung dan Etienne NAVEAU dosen Jurusan Bahasa Indonesia di INALCO Paris. Kumpulan buku puisi tunggal karya Meitha KH yang berjudul JANTUNG PEREMPUAN edisi Soneta, diterjemahkan ke dalam bahasa Prancis oleh Prof. Etienne NAVEAU dan akan di terbitkan di Paris pada tahun 2015 bersama penyair lainnya.

Pasir Putih Pantai Sawarna - Pikiran Rakyat 6 September 2014




Siapa sangka, di daerah Bayah, perbatasan antara Propinsi Jawa Barat dan Banten ini, terdapat pesona alam yang tersembunyi. Ya, pantai Sawarna. Pantai dengan panjang sekitar 65 kikometer  ini merupakan  surga yang tersembunyi di laut selatan. Siapa sangka pula, jika kita meneruskan perjalanan sekitar 1,5 jam dari Karang Hawu Pelabuhan Ratu ini, kita bisa menemukan pantai tersebut. Pantai dengan hamparan pasir putih dan bersih, dengan air laut yang jernih, dan gulungan ombak menderu-deru ke sudut kalbu, menenangkan hati dan menyegarkan pikiran.
            Pantai Sawarna ini berada di wilayah Kampung Gendol. Desa Sawarna, Kecamatan Bayah, Kabupaten Lebak. Pantai pemilik debur ombak yang indah ini berjarak sekitar 150 km dari pusat kota Rangkasbitung atau sekitar 4 jam dari kota Sukabumi.  
            Menuju Pantai Sawarna bukan merupakan perjalanan yang sulit. Setelah melewati Pelabuhan Ratu dari arah Sukabumi, kita dapat melanjutkan perjalanan sekitar 1,5 jam. Jika kita menggunakan kendaraan umum, kita bisa berhenti di pinggir jalan utama menuju pantai Sawarna. Tersedia jasa ojek di situ dengan jarak tempuh 12 km. Sesampainya di desa Sawarna, kita akan menyusuri sebuah gang  dengan melewati jembatan gantung, lalu kita diharuskan membayar karcis seharga lima ribu rupiah. Di situlah pusat wisata Pantai Sawarna. Dan di situ pula penginapan-penginapan kecil mulai terlihat dan lautan biru semakin tampak.
            Pantai Sawarna, pada mulanya dikunjungi oleh wisatawan asing dari Amerika, Australia, Jepang dan Korea. Kebanyakan wisatawan tersebut  gemar bermain Surfing (berselancar), mereka berangkat dari arah Pangandaran menggunakan kapal kecil dan menemukan pantai ini. Terkagum-kagum dengan keindahan pantai dan pasir putihnya yang masih perawan, akhirnya para wisatawan asing itu menceritakan tentang Sawarna kepada teman-temannya. Selain ombaknya yang menantang untuk bermain surfing, di Pantai ini juga terdapat karang yang tinggi, yang dikenal dengan nama “Karang Taraje”. Sejak itulah, banyak wisatawan asing yang datang ke pantai ini, dan sejak itu pula, penduduk sekitar mulai mengelola pantai tersebut dan membuat beberapa penginapan atau “Home Stay”.
            Untuk penginapan atau homestay, harga yang ditawarkan cukup beragam. Mulai dari 150 ribu sampai 350 ribu rupiah. Tergantung fasilitas yang akan kita pilih. Pemilik penginapan menyediakan tempat tidur, kamar mandi, kipas angin, dan AC. Untuk urusan makan, pemilik penginapan juga menyediakan makan 3x sehari. Kita bisa memilih makan di tempat penginapan atau membeli terpisah di kedai makan dekat pantai Sawarna.
            Bukan hanya kawasan itu saja yang tersedia di Sawarna. Sekitar 7 km dari depan gang, kita bisa menemukan  penginapan yang lain yang dibangun di sisi pantai tanpa perlu membayar karcis. Hanya saja, di kawasan itu tidak begitu ramai. Rata-rata, para wisatawan memilih untuk tinggal di pusat kawasan utama untuk berselancar dan menikmati keindahan pantai.
            Meskipun pantai Sawarna belum dikelola oleh pemerintah propinsi, masyarakat setempat sudah mulai membangun daerah pariwisata tersebut. Hampir seluruh penduduk sekitar pantai, membangun penginapan kecil dan kedai-kedai makan di pinggir pantai. Kita dapat menikmati berbagai jenis ikan laut yang masih segar; seperti kepiting, bawal, udang, cumi, dan lain-lain.
            Lantas, apa saja yang dapat kita temukan di daerah tersebut? Ternyata banyak keindahan yang dapat kita resapi di daerah ini. Selain keindahan pantai dan pasir putihnya, kita juga dapat berkeliling untuk melihat gua dan karang. Salah satu karang yang cukup terkenal adalah Karang Taraje. Di Karang ini, Anda dapat memandang pantai dengan bentangan karang yang besar dan luas, juga cekungan karang yang membentuk kolam di antara sela karang. Cekungan tersebut berisi ikan yang sering dijadikan tempat memancing oleh penduduk setempat. Hal lain yang dapat kita temukan adalah agrowisata di area pesawahan. Kita dapat mencari batu-batu hias di sungai Cisawarna, mengunjungi tempat pelelangan ikan, melakukan panjat tebing, atau menuju suaka alam yang terletak di sebelah timur desa Sawarna.
            Nah, menarik bukan. Ternyata, masih banyak keindahan alam di pulau Jawa yang bisa kita nikamati dan kita syukuri keindahannya. Tempat ini cocok untuk liburan Anda  bersama teman-teman atau keluarga, bahkan bagi pasangan yang baru menikah dan ingin menikmati bulan madu.

           
           

             

Selasa, 08 Juli 2014

Jantung Perempuan



TELAH TERBIT!

Judul : Jantung Perempuan (Kumpulan Puisi)
Penulis : Meitha KH
Penerbit : Metafor Imagination (Mei, 2014)
Korektor : Ratna Ayu Budhiarti
Desain kover & Tata letak : Langit Amaravati
Halaman : x + 76 halaman (Hardcover)
ISBN : 978-602-70499-1-8
Harga : 49 ribu (belum termasuk ongkir)
Pemesanan melalui inbox Facebook  atau Whats app: 081222583355

Puisi-puisi di Bali Post



Cimandiri

Membayang-bayang terbayang-bayang
Sungai Cimandiri kekal di ingatan
Sewaktu muda, tubuh kita belia
Kau petik bunga, pipiku merah merona

Di kiri sungai itu, rumput kian belukar
Duduk kita di atas batu. Besar juga bisu
Langit lebih cerah dari sekarang
Kekhawatiran lebih lenyap dari masa depan

Bening sungai memanjang di batinku
Tanpa perahu menuju pulang
Hanya dayung kenangan

Bening sungai di matamu
Cimandiri waktu itu
Begitu lugu

2014



Terlampau Aku

Terlampau sering kita berputar
Sampai sesat di jalan
Sampai lupa arah pulang

Terlampau banyak tempat untuk singgah
Sampai debu-debu melekat di tubuhku
Sampai langkah sulit berpacu
Sampai pada ingin menyerah

Terlampau sering kita mencari
Kesempurnaan dari luar diri
Kelengkapan yang tiada henti

Sampai segala yang kita miliki
Lama-lama pergi
Tak ada arti

2014

Panda, Suka Biskuit Loh! (Pikiran Rakyat, Juni 2014)

Siapa yang punya boneka Panda di rumah? Atau pernah melihat binatang Panda? Sobat percil tentu tahu apa itu Panda. Banyak film yang menayangkan tentang Panda, bahkan boneka Panda dapat kita temukan di toko boneka sekitar kita.  Panda memang binatang yang lucu. Binatang mamalia ini dikelompokkan ke dalam keluarga Beruang yang berasal dari Tiongkok Tengah. Panda besar tinggal di daerah pegunungan, seperti Sichuan dan Tibet. Sebenarnya Panda ini merupakan binatang Karnivora atau pemakan daging. Tetapi sebagian besar Panda, hanya memakan tumbuh-tumbuhan seperti bambu. Jika Panda sedang makan, telinganya bergerak-gerak saat mengunyah. Lucu kan sobat percil?
            Sobat percil tahukah apa makanan favorit binatang Panda ini? Ternyata Panda suka sekali dengan biskuit. Ya, ada sebuah pabrik biskuit di Cina yang berhasil menciptakan biskuit yang digemari Panda. Panda-panda yang kekurangan gizi mengkonsumsi biskuit itu dengan lahap di pusat pemeliharaan panda raksasa Chendu di Provinsi Sichuan. Tapi, mengapa ya Panda itu bisa suka dengan biskuit tersebut? Waah, sobat percil ternyata bentuk biskuit tersebut dibuat mirip dengan bentuk bambu. Di dalam biskuit tersebut terdapat serat dan vitamin untuk meningkatkan nutrisi binatang yang semakin punah ini.
            Saat ini, di seluruh Cina, diperkirakan hanya ada 1000 Panda yang hidup di hutan, 120 di kebun binatang dan pusat penelitian. Dalam 20 tahun terakhir binatang ini telah berkurang sampai 40 %. Nah, jika makanan favorit Panda adalah biskuit, lalu makanan favorit sobat percil apa ya?





Buka Puasa di Kawasan Punclut (Pikiran Rakyat, Juli 2014)




Di tengah hiruk-pikuknya perkotaan dan pekerjaan, menyebabkan kita membutuhkan suasana yang berbeda. Suasana yang dapat menyegarkan badan dan pikiran. Suasana yang menghilangkan penat dan jauh dari kebisingan. Kebutuhan-kebutuhan untuk menyeimbangkan kehidupan itu, bisa kita dapatkan dengan memilih tempat yang tepat. Tempat yang mengalirkan sejuknya angin dari dedaunan dan pemandangan yang begitu hijau. Tempat dimana kita bisa menikmati cahaya matahari yang tenggelam di senja hari. Tempat yang menyediakan makanan tradisional dengan cita rasa pedesaan. Ya, dimana lagi kalau bukan di kawasan Puncak Ciumbuleuit Utara.
            Kawasan yang dikenal dengan sebutan Punclut ini terletak di dataran tinggi Ciumbuleuit. Berjarak sekitar 7 kilometer dari pusat kota Bandung, atau hanya 3 kilometer dari pusat perbelanjaan Cihampelas. Jika Anda tidak membawa kendaraan, tidak perlu khawatir. Anda bisa menggunakan angkot jurusan Ciumbuleuit dan membayar ongkos sebesar tiga ribu rupiah. Dari pertigaan Ciumbuleuit, Anda bisa menyewa ojek dan membayar sekitar 10 sampai 15 ribu rupiah. Untuk Anda yang ingin lebih sehat, dari pertigaan tersebut Anda bisa berjalan kaki ke kawasan Punclut.
            Setibanya di sana, Anda akan menjumpai warung-warung makan berjajar sepanjang jalan. Warung-warung yang terbuat dari kayu dan bambu itu sengaja dibuat lesehan yang beralaskan karpet, agar pengunjung dapat makan dengan santai. Persis seperti ketika kita duduk di bale-bale dan memandang bukit berhias sawah dan kebun. Sambil menikmati makanan khas Sunda, kita juga bisa menyegarkan tenggorokan dengan sajian es kelapa muda.
            Makanan yang tersedia di kawasan Punclut ini mayoritas makanan khas Sunda, seperti; nasi timbel, ayam bakar, pepes ikan, tahu, tempe, ikan asin dan sambal. Tersedia juga lalapan dan sayur asem. Dengan harga yang relatif terjangkau, kita bisa menikmati ini seperti masakan rumah. Untuk anda yang ingin menikmati makanan lain, tak perlu khawatir, beberapa restoran juga memiliki menu tambahan lain.
            Warung-warung dan kafe di kawasan ini dibuka setiap hari. Mulai jam Sembilan pagi sampai jam sepuluh malam. Tapi jangan salah, beberapa warung tenda ada yang buka sampai 24 jam. Di warung-warung ini kita dapat mendengar alunan musik yang mengalun jika malam menjelang.
            Lantas bagaimana jika kita ingin menyelenggarakan acara di kawasan ini? Tentu saja di Punclut terdapat restoran yang menyediakan fasilitas tersebut. Salah satunya adalah Rumah Jati Bono. Restoran dengan bangunan yang terbuat dari kayu ini memiliki dua lantai. Di lantai satu, tersedia beberapa sofa dan kursi rotan, sedangkan lantai dua dibuat dengan konsep lesehan beralaskan tikar. Restoran ini bisa disewa untuk beberapa acara seperti pernikahan, meeting, ulang tahun, dan lain-lain. Dengan tambahan halaman belakang yang terbuka, tempat ini sangat cocok untuk acara kumpul-kumpul, baik dengan gaya outdoor maupun indoor.
            Nah, tunggu apalagi. Untuk Anda yang ingin menikmati makanan tradisional dengan suasana yang alami, kita bisa segera menuju ke sana. Apalagi di bulan Ramadhan ini, cocok untuk menyelenggarakan acara buka puasa bersama keluarga atau teman-teman.
           
           



Selasa, 22 April 2014

Nge-Date Bareng Djenar Maesa Ayu

Nge-Date Bareng Penulis Kontroversial

Oleh Meitha KH


“Saya ingin mengajak Mbak Djenar nge-date !” ujar salah seorang peserta diskusi sastra bersama Djenar Maesa Ayu di Bandung minggu lalu. Bukan pertanyaan melainkan undangan. Bukan dari laki-laki tapi perempuan.

“Saya, akan ada di sini sampai pukul 12 malam. Kita bisa nge-date sambil minum dan karoke bareng”. Begitu jawaban Djenar di sela tawa riuh dari peserta lainnya.

Penulis yang terkenal dengan karyanya yang berjudul “Mereka Bilang Saya Monyet” terbilang fenomenal. Tema-tema yang diangkat Djenar tentang perempuan dan mengeksploitasi tubuh begitu “vulgar” atau tidak basa-basi. Bagi Djenar, bahasa adalah alat komunikasi yang harus efektif dan mudah dimengerti. Konsistensi Djenar dengan berbahasa lugas dalam karya-karyanya menjadikan penulis ini dicaci sekaligus dipuja oleh banyak pembaca.

Jangan heran kalau Djenar menanggapi ajakan kencan tersebut. Kesempatan langka itu muncul dalam Dialog Kreatif bersama Djenar Maesa Ayu. Penyelenggara, Metafor Production memang membuat konsep diskusi yang berbeda, mulai dari pemilihan tempat, konsep acara, dan pembicara. Peserta bebas bertanya apapun kepada Djenar, tidak sebatas proses kreatif menulis.

Konsep ini menarik sedikitnya 70 peserta. Kebanyakan mahasiswa dari Universitas Siliwangi (Unsil_ Tasikmalaya, Institut Kesenian Jakarta (IKJ), Universitas Komputer Indonesia (Unikom), dan Pascasarjana Universitas Pendidikan Indonesia (UPI). Beberapa guru madrasah juga tampak di sana. Mereka cukup membayar tiket antara Rp50 ribu hingga Rp70 ribu untuk mengikuti acara ini.

Selain ajakan nge-date, pertanyaan dan pernyataan pun terlontar. Ada yang mencaci karya, moralitas, hingga meminta pertanggungjawaban atas karya Djenar. Seorang guru malah meminta Djenar mencantumkan himbauan terkait hal-hal baik dan buruk dalam karya-karyanya.

Sebut saja Diana, mahasiswi sastra Indonesia dari Unsil yang menuntut pertanggungjawaban atas rasa sakitnya setelah membaca “Semalam Ada Binatang” dalam buku “Cerita Pendek Tentang Cerita Cinta Pendek”.  Kekuatan kata-kata dan keberanian Djenar menghidupkah tokoh-tokoh dalam cerpen tersebut telah menyihir Diana. Membuatnya turut merasakan sakit perut dan meriang sampai pagi.

Burhan Sidik, novelis sekaligus guru Bahasa Indonesia menyebut Djenar sebagai manusia tak bermoral. Tuduhan serupa dia layangkan kepada Agus Noor, cerpenis yang hadir sebagai pembicara mendampingi Djenar. Burhan mempertanyakan apa yang mereka sembah. Keduanya menjawab mereka menyembah kesenian dan kebaikan, setelah perdebatan sekitar 20 menit.

Perdebatan seperti itu biasanya hanya berlangsung sebentar. Tapi suasana di Roger’s CafĂ© and Lounge seolah-olah membuai peserta. Sofa empuk serta aneka minuman yang tersaji menemani diskusi sastra yang biasanya membosankan menjadi lebih nyaman diikuti. “Ini mau diskusi atau mau clubbing?” ungkap seorang peserta.

Meski jauh dari kesan formal, diskusi berlangsung serius. Djenar tidak pelit berbagi proses kreatifnya seputar penulisan. Agus membawa peserta memahami proses serupa dengan pendekatan filosofis.

“Satu-satunya cara memulai tulisan adalah dengan mulai menuliskannya. Kita akan menemukan metabolisme sendiri dalam tulisan tersebut. Yang berikutnya adalah disiplin,” kata Djenar.

Di sela-sela acara tersebut, Peri Sandi (Seniman) membacakan puisi karya W.S Rendra. Gayanya yang ekspresif membungkam peserta. Hening sejenak ditutup dengan riuh tawa. Agus Noor juga membacakan puisi karyanya bertajuk “Ciuman yang Menyelamatkan dari Kesedihan”. Sebagian besar peserta –yang kebanyakan anak muda—langsung histeris menyimak kata demi kata romantis yang diucapkan Agus.  

Alur diskusi yang tidak monoton mengikat peserta tetap duduk hingga acara usai. Mereka tidak lantas canggung berfoto dan meminta tandatangan Djenar yang baru menerbitkan kumpulan cerpen terbarunya “SAIA”. Buku ini malah habis sebelum acara mulai.


Ajakan nge-date bareng pun benar-benar terjadi selesai diskusi. Sembari karaoke bersama, sang penanya tampak duduk di samping Djenar. Andai polisi tidak membatasi waktu berkumpul di Kota Bandung, kencan itu bisa berlangsung hingga lewat tengah malam. 

Dibuai Pesona Karma Kandara (Pikiran Rakyat, April 2014)

Dibuai Pesona Karma Kandara
Oleh Meitha KH




Alam, memang selalu meninggalkan keindahan yang lekat di ingatan. Alam di Negeri kita ini, di tengah bencana yang meninggalkan duka, akan ada manfaat yang luar biasa. Di sekitar kita, di Indonesia, ternyata masih banyak sudut-sudut alam yang dapat kita nikmati dan kita cecap pesonanya. Seperti di Kecamatan Kuta  Selatan, Kabupaten Badung, Desa Ungasan, di Pulau Bali, terdapat sebuah kawasan atau pantai yang disebut  Karma Kandara.
                
Karma Kandara merupakan salah satu tempat wisata favorit di Uluwatu selain Pantai Dreamland. Untuk menuju tempat ini, membutuhkan waktu lebih kurang 30 menit dari Bandara Ngurah Rai bila menggunakan motor dan jarak tempuhnya sekitar 27 km dari kota Denpasar.
                
Aroma laut dan aroma udang. Siapa yang tidak tertarik dengan suasana ini. Menikmati makanan laut dan minuman dingin, di bawah atap bambu, memandang matahari tenggelam dengan lautan yang jernih. Batuan dan lumut hijau begitu transparan. Hidup semakin menggairahkan, duduk di restoran dengan bangunan yang natural, di sisi pantai Karma Kandara. Di bawah tebing melahap angin.
                
Memasuki tempat ini, dari area parkir, kita akan melewati sebuah lorong beratapkan daun-daun. Cahaya matahari menyelinap melalui tanaman rambat itu, menyentuh wajah kita. Dinding lorong terbuat dari batu-batu besar . Sekitar 200 meter, kita akan berjalan menuju tempat pertama, sebuah restoran di atas tebing dan kolam renang di sampingnya, juga hamparan laut di bawahnya.
                
Sedangkan untuk menuju pantai dan restoran bambu di bawah, kita harus menggunakan lift, semacam kereta gantung yang turun menyusuri tebing tersebut. Meskipun kawasan ini adalah sebuah resort dan pantai khusus untuk tamu yang menginap, bagi kita yang hanya ingin menikmati pantainya, dapat juga turun ke pantai tersebut dengan membeli tiket masuk seharga 250 ribu rupiah. Harga yang cukup pantas untuk pantai seindah ini.
                
Tapi tidak perlu khawatir, jika kita ingin menikmati pantai tersebut secara gratis, masih ada cara lain, hanya saja memang membutuhnkan tenaga lebih. Untuk memasuki area pantai, kita harus berjalan kaki melewati lorong sempit di antara tembok pagar pura dan hotel sampai di bibir tebing yang tingginya sekitar 150 meter, lalu menuruni 340 anak tangga yang berkelok. Cukup menantang bukan?
                
Di pantai ini, pengunjung tidak akan menemukan sampah. Pantainya begitu bersih, air laut pun sangat jernih berwarna hijau kebiruan. Tidak sedikit wisatawan asing yang berlibur di pantai tersebut, untuk sekadar bersantai, bermain selancar, bermain pasir, berjemur, berpesta, dan menikmati makanan di restoran bambu. Berbagai  makanan tersedia di sini, seperti daging gurita yang begitu lezat, salad yang segar, dan minuman dingin yang membebaskan keringnya tenggorokan.  
                
Bukan hanya itu, Kawasan pantai yang disebut sebagai “Private Beach” ini,  menyediakan 46 Villa dengan tipe yang beragam. Ada 5 tipe dengan fasilitas dan pemandangan yang berbeda, seperti: Luxury Pool Villa, Ocean View Luxury Pool Villa, Grand Luxury Pool Villa, Ocean View Grand Luxury Villa, Cliftt-Front Residence, dan Grand Cliff-Front Residence. Kita dapat memilih pemandangan yang kita suka: kolam, laut lepas, atau tebing. Bagi Anda yang ingin berlibur atau ingin menikmati bulan madu. Tempat ini sangat cocok untuk dicoba. Kamar berukuran standart dapat diisi dari 2 sampai 4 orang. Sementara yang berukuran besar berbentuk rumah mewah dengan 3 lantai. Dilengkapi kolam renang pribadi di halaman belakang yang meghadap pantai, juga beberapa gazebo atau bale-bale kecil. Tipe ini cocok untuk liburan keluarga. Di lantai satu, tersedia satu kamar  tidur utama, 1 kamar tidur anak, ruang keluarga, ruang olahraga, ruang meeting, bioskop mini, dan dapur. Di lantai dua terdapat 2 kamar tidur,sedangkan lantai tiga khusus untuk massage dengan atap sedikit terbuka dan menghadap ke laut.  
                
Seperti fasilitas resort pada umumnya, layanan  Spa dan Sauna tersedia juga di sini. Namun yang istimewa adalah, kita bisa memanjakan tubuh tersebut sambil memandang pantai. Whirlpool yang terletak di atas bukit, ruang pijat setengah terbuka, semilir angin menyusup telinga. Ah, apalah namanya jika bukan surga. 
                
Ya, Karma Kandara memang menggoda. Tempat ini memiliki atmosfir yang berbeda dengan tempat lainnya. Berbagai inspirasi akan kita dapatkan di kawasan ini.




Kamis, 10 April 2014

Sehat dan Segar di Pemandian Air Panas (Pikiran Rakyat 15 Maret 2014)





Sehat dan Segar di Pemandian Air Panas
Oleh Meitha KH

Banyak cara menikmati musim hujan. Banyak cara menghilangkan kepenatan. Salah satunya dengan berendam air panas. Meskipun musim hujan masih melanda, kita tetap ingin menikmati liburan di akhir pekan. Kita tetap ingin berjalan-jalan. Terlebih lagi, jika kita merasa lelah dengan rutinas pekerjaan. Berdiam diri di rumah, memang tidak terlalu menyenangkan. Lantas bagaimana jika kita ingin mengisi akhir pekan di tengah cuaca yang begitu dingin ini?

Ya, salah satunya adalah dengan berendam air panas. Banyak pemandian air panas di Jawa Barat seperti di Subang, Garut, dan Sukabumi. Pemandian air panas ini selain membuat tubuh kita segar, bisa menyembuhkan berbagai penyakit, terutama penyakit kulit sebab airnya mengandung belerang.
Jika kita ingin menikmati perjalanan yang tidak begitu jauh dari pusat kota,  pemandian air panas Cikundul Sukabumi bisa menjadi pilihan. Dengan jarak sekitar delapan kilometer dari kota Sukabumi, tempat ini berlokasi di Jalan Proklamasi no.242 kecamatan Lembursitu. Pemandian air panas cikundul ini memiliki keunikan tersendiri. Salah satunya adalah airnya mengalir sampai sungai Cimandiri. Bila hujan datang, sungai Cimandiri tetap terasa hangat.

Tempat yang tidak jauh dari kuburan cina bernama Santiong ini memang menarik. Untuk menuju tempat ini, dari stasiun kereta api Sukabumi, cukup naik angkot jurusan Tipar- Cikundul dengan membayar ongkos tiga ribu rupiah. Dan kita bisa berhenti tepat di depan pemandian tersebut.

Di pemandian Cikundul ini,  terdapat kolam air dingin dan air panas. Jika kita ingin lebih tertutup, disediakan juga kamar-kamar dengan bak untuk berendam. Untuk masuk tempat ini, kita cukup membayar tiga ribu rupiah. Sedangkan jika ingin ke kamar rendam, kita bisa menyewanya seharga 25 ribu rupiah selama satu jam. Bukan hanya itu, tempat ini juga menyediakan kamar untuk menginap seharga 150 ribu per malam, tempat bermain anak-anak, dan pemandangan yang asri. Di belakang tempat ini mengalir sungai Cimandiri. Deretan pegunungan yang hadir di tempat ini, membuat udara sejuk dan menyegarkan.
Sungai Cimandiri yang terletak di lokasi obyek wisata tersebut memiliki arus sungai yang cukup tinggi. Maka dari itu, pada tahun 2009 pemandian air panas ini dilengkapi dengan fasilitas arung jeram. Ruas sungai yang akan digunakan untuk olahraga arung jeram tersebut berjarak sepanjang 4 kilometer dengan waktu tempuh sekitar 90 menit.

Tempat yang diresmikan pada tahun 1993  oleh walikota Sukabumi   ini banyak dikunjungi wisatawan.  60 % pengunjung berasal dari wilayah Sukabumi, dan sisanya dari kota lain seperti Bogor, cianjur, dan Tasikmalaya. Selain dikarenakan biayanya yang murah, tempat ini juga dekat dengan perkotaan. Sehingga, jika kita ingin mencari makanan khas Sukabumi tidak begitu sulit didapat. Seperti Mochi Lampion atau bubur ayam Bunut. Hemm…sehabis berendam lalu makan bubur ayam ini sangat menggiurkan bukan? atau membeli kue Mochi sebagai oleh-oleh dan teman perjalanan pulang.





Minggu, 23 Maret 2014