Kamis, 16 Desember 2021

Mencari Sebuah Mesjid (Puisi Taufik Ismail)


 

(Taufiq Ismail) Jeddah, 30 Januari 1988

 

Aku diberitahu tentang sebuah masjid
yang tiang-tiangnya pepohonan di hutan
fondasinya batu karang dan pualam pilihan
atapnya menjulang tempat tersangkutnya awan
dan kubahnya tembus pandang, berkilauan
digosok topan kutub utara dan selatan

Aku rindu dan mengembara mencarinya

Aku diberitahu tentang sepenuh dindingnya yang transparan
dihiasi dengan ukiran kaligrafi Quran
dengan warna platina dan keemasan
berbentuk daun-daunan sangat beraturan
serta sarang lebah demikian geometriknya
ranting dan tunas jalin berjalin
bergaris-garis gambar putaran angin

Aku rindu dan mengembara mencarinya

Aku diberitahu tentang masjid yang menara-menaranya
menyentuh lapisan ozon
dan menyeru azan tak habis-habisnya
membuat lingkaran mengikat pinggang dunia
kemudian nadanya yang lepas-lepas
disulam malaikat menjadi renda-renda benang emas
yang memperindah ratusan juta sajadah
di setiap rumah tempatnya singgah

Aku rindu dan mengembara mencarinya

Aku diberitahu tentang sebuah masjid yang letaknya di mana
bila waktu azan lohor engkau masuk ke dalamnya
engkau berjalan sampai waktu asar
tak bisa kau capai saf pertama
sehingga bila engkau tak mau kehilangan waktu
bershalatlah di mana saja
di lantai masjid ini, yang luas luar biasa

Aku rindu dan mengembara mencarinya

Aku diberitahu tentang ruangan di sisi mihrabnya
yaitu sebuah perpustakaan tak terkata besarnya
dan orang-orang dengan tenang membaca di dalamnya
di bawah gantungan lampu-lampu kristal terbuat dari berlian
yang menyimpan cahaya matahari
kau lihat bermilyar huruf dan kata masuk beraturan
ke susunan syaraf pusat manusia dan jadi ilmu yang berguna
di sebuah pustaka yang bukunya berjuta-juta
terletak di sebelah menyebelah mihrab masjid kita

Aku rindu dan mengembara mencarinya

Aku diberitahu tentang masjid yang beranda dan ruang dalamnya
tempat orang-orang bersila bersama
dan bermusyawarah tentang dunia dengan hati terbuka
dan pendapat bisa berlainan namun tanpa pertikaian
dan kalau pun ada pertikaian bisalah itu diuraikan
dalam simpul persaudaraan yang sejati
dalam hangat sajadah yang itu juga
terbentang di sebuah masjid yang mana

Tumpas aku dalam rindu
Mengembara mencarinya
Di manakah dia gerangan letaknya ?

Pada suatu hari aku mengikuti matahari
ketika di puncak tergelincir dia sempat
lewat seperempat kuadran turun ke barat
dan terdengar merdunya azan di pegunungan
dan aku pun melayangkan pandangan
mencari masjid itu ke kiri dan ke kanan
ketika seorang tak kukenal membawa sebuah gulungan
dia berkata :

Inilah dia masjid yang dalam pencarian tuan¡

dia menunjuk ke tanah ladang itu
dan di atas lahan pertanian dia bentangkan
secarik tikar pandan
kemudian dituntunnya aku ke sebuah pancuran
airnya bening dan dingin mengalir beraturan
tanpa kata dia berwudhu duluan
aku pun di bawah air itu menampungkan tangan
ketika kuusap mukaku, kali ketiga secara perlahan
hangat air terasa, bukan dingin kiranya
demikianlah air pancuran
bercampur dengan air mataku
yang bercucuran.

 

Kembalikan Indonesia Padaku (Puisi Taufik Ismail)


 

 

 (Taufiq Ismail) Paris, 1971

 

Hari depan Indonesia adalah dua ratus juta mulut yang menganga,
Hari depan Indonesia adalah bola-bola lampu 15 wat,
sebagian berwarna putih dan sebagian hitam,
yang menyala bergantian,
Hari depan Indonesia adalah pertandingan pingpong siang malam
dengan bolayang bentuknya seperti telur angsa,
Hari depan Indonesia adalah pulau Jawa yang tenggelam
karena seratus juta penduduknya,

Kembalikan Indonesia padaku

Hari depan Indonesia adalah satu juta orang main pingpong siang malam
dengan bola telur angsa di bawah sinar lampu 15 wat,
Hari depan Indonesia adalah pulau Jawa yang pelan-pelan tenggelam
lantaran berat bebannya kemudian angsa-angsa berenang-renang di atasnya,
Hari depan Indonesia adalah dua ratus juta mulut yang menganga,
dan di dalam mulut itu ada bola-bola lampu 15 wat,
sebagian putih dan sebagian hitam, yang menyala bergantian,
Hari depan Indonesia adalah angsa-angsa putih yang berenang-renang
sambil main pingpong di atas pulau Jawa yang tenggelam
dan membawa seratus juta bola lampu 15 wat ke dasar lautan,

Kembalikan Indonesia padaku

Hari depan Indonesia adalah pertandingan pingpong siang malam
dengan bola yang bentuknya seperti telur angsa,
Hari depan Indonesia adalah pulau Jawa yang tenggelam
karena seratus juta penduduknya,
Hari depan Indonesia adalah bola-bola lampu 15 wat,
sebagian berwarna putih dan sebagian hitam, yang menyala bergantian,
Kembalikan Indonesia padaku

 

Selasa, 07 Desember 2021

Pendar Cahaya di Waktu Fajar (Puisi Meitha KH dalam buku Mengeja Semesta)


 

 

Di pantai ini

Ombak bergulung dengan santai

Gemuruhnya nyaris tak terdengar

Karang timbul tenggelam

Cahaya berpendar di waktu fajar


Di pantai ini

Engkau yang paling Maha

Seolah mengulang sabda

Bacalah!

Segala yang Engkau ciptakan sebagai tanda

jalan menuju pangkuan-Mu


Di pantai ini

Lautan merunduk

Aku pun kian menunduk

tak mampu berkata-kata


2020

Gerbang Ar Raayah (Puisi Meitha KH dalam buku Mengeja Semesta)


 

Kerikil Basah

Palem berjajar sepanjang perjalanan

dari gerbang

menuju ruang pertemuan

 

Hijau rumput dibanjiri hujan

awan merendah

bertanya pada tanah

apa itu berserah?

 

Ini sudah lewat subuh

gerimis pagi setiap hari

menemui alam yang sempat angkuh

ketika musim belum berganti

 

Ini sudah lewat subuh

dari gerbang menuju pertemuan

Aku tak ingin berlari

biarlah titik-titik hujan

mendinginkan batinku dari keserakahan

 

2020

Mengeja Semesta (Antologi Puisi AWWA)

 

Pada bulan Juli 2020, AWWA (Asean Women Writers Association) kembali menerbitkan buku kumpulan puisi yang berjudul "MENGEJA SEMESTA: Perempuan, bumi, dan cakrawala".

Buku tersebut diterbitkan oleh Media-Data Center Wanadri dan AWWA

Jumlah halaman, 270


Buku ini menghimpun 32 penulis perempuan dari seluruh Asia yang tentu saja mereka adalah anggota atau bagian dari AWWA (Asean Women Writers Association)



Rabu, 19 September 2018

Kalau Bukan Karena Maut (Puisi Meitha KH)



kalau bukan karena maut,
kami tidak akan berpisah.
Cinta kami tak pernah usai
meski usia bertambah
meski keadaan berubah
meski ragaku berpindah-pindah

Kalau bukan karena kematian
tentu kami masih mencicipi kebahagiaan
tetapi setelah kematianmu pun
cinta ini bertambah
kerinduan membuncah
kenangan memerah

Kami bermalam di tepi lautan,
di lampu perkotaan, di liuk jalan kampung halaman, 

di jendela-jendela kamar, dan mabuk dalam persembunyian.
hubungan kami terancam
tetapi cinta,
siapa yang mampu mengendalikan?

Kalau bukan karena maut,
aku tak jua sadar
cinta kami
lebih dari besar

2018

Sabtu, 24 Juni 2017

Food Combining : Sehat dan Murah (2)



Masih membahas soal food combining (FC). Kenapa sih saya ngotot bahas soal diet FC ini? Karena saya sudah mempraktikkan berbagai jenis diet, dari yang alami sampai yang menggunakan obat. Tetapi buat saya kurang cocok. Sedangkan, ketika saya mencoba food combining, saya merasa tubuh saya segar, segala rasa sakit hilang, dan turun berat badan.

FC ini tujuan utamanya sehat. Langsing itu bonus.

Pembaca setia, banyak banget loh artikel tentang food combining. Silakan dicek kalau ingin lebih terperinci. Intinya, diet FC ini berfungsi untuk keseimbangan PH dalam tubuh, Jadi, kalau tubuh kita seimbang dan sehat, maka sel-sel mudah diperbaharui dan penyakit pun sembuh dengan sendirinya.

Kali ini saya akan memaparkan cara diet dan menu diet yang saya jalankan.
 

06.00 - 12.00: Waktu pembuangan (sarapan buah)
Bangun tidur, saya langsung minum jeruk nipis peres dicampur air hangat. Caranya tuang air hangat dulu, lalu peras jerus nipis/ jeruk lemon, minum pelan-pelan agar tercampur dengan air liur.
Satu jam kemudian, saya minum jus tanpa gula (buah naga, pepaya, apel, wortel).
Satu jam kemudian saya lapar (maklum ibu menyusui), kemudian saya makan buah potong (apa saja kecuali duren dan nangka) sampai kenyang. Kadang kadang saya makan sayur saja (waluh, buncis di rebus/kukus). Jangan sampai kita menahan lapar ya. Alhamdulilah BAB lancar setiap pagi.

Jam 12.00 - 20.00: Waktu pencernaan

Nah, di jam ini saya makan nasi dengan sayur sop atau pecel atau lotek. Boleh ditambah tempe, tahu atau perkedel. Intinya, karbohidrat tidak boleh dicampur dengan protein hewani. Jadi, kalau makan nasi, padanannya adalah sayur, tidak boleh ikan atau daging. Jika kita ingin makan ikan atau daging, padanannya sayur. Tetapi saran saya, makan daging itu sesekali saja, toh tubuh kita lebih baik jika diberi protein nabati. Sebelum malam, saya makan sayur dengan ikan atau sayur dengan tahu.

Saya tidak makan makànan olahan apapun seperti roti, susu, keju, kue, mie, dll. Lalau mau cheating karena kabita, paling ambil dua kue kecil.

Gampang, kan? Intinya sebisa mungkin kita makan makanan yang alami. selamat mencoba!